GpMpBSG5TSO0TSG0TpOiTpG5Ti==
  • Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh

Mata Rantai Perjuangan Islam

Oleh Agung Hidayat

Direktur Lembaga Fasilitator Program PP GMH

Pada 7–9 Agustus mendatang, Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) akan menyelenggarakan Next Gen Leaders (NGL) di Asrama Haji Yogyakarta. Bagi sebagian orang, agenda ini mungkin sekadar pelatihan kepemimpinan. Namun, lebih dari itu, ini adalah ikhtiar menyambung sebuah perjuangan.

Bagi GMH, kaderisasi bukan sekadar program kerja musiman. Kaderisasi adalah napas organisasi. Di sanalah cita-cita dititipkan, nilai diwariskan, dan masa depan dipersiapkan.

Sebuah organisasi pergerakan mesti mampu melahirkan manusia yang sanggup memikul amanah zaman. Kegiatan akan selesai. Kepengurusan akan berganti. Jabatan akan datang dan pergi. Namun kader yang tumbuh dengan ilmu, karakter, dan komitmen akan tetap menjadi cahaya yang menerangi perjalanan organisasi jauh setelah semua itu berlalu.

Benar adanya jika dikatakan kaderisasi adalah pekerjaan sunyi. Sebab hasilnya sering kali baru tampak bertahun-tahun kemudian. Namun justru karena itulah ia menjadi kerja dakwah paling strategis.

GMH harus menjadi rumah bagi anak-anak muda yang tidak hanya ingin berhasil untuk dirinya sendiri, tetapi juga ingin menghadirkan manfaat bagi umat, bangsa, dan peradaban.

Kita semua meyakini bahwa membangun manusia tidak pernah menjadi pekerjaan satu generasi. Dalam sejarah, tidak ada perjuangan besar yang lahir dari satu orang. Selalu ada mata rantai penyambung. Ada mereka yang menanam. Ada mereka yang menjaga. Ada pula mereka yang melanjutkan estafet agar cita-cita itu bernapas panjang.

Begitulah seharusnya kita memandang GMH. Ia bukan buat hidup dalam semalam, apalagi dianggap sebagai organisasi event, GMH adalah satu bagian dari mata rantai perjuangan Islam.

Kendati organisasi ini masih muda. Belum sampai satu dekade. Pengalamannya belum sepanjang organisasi perkaderan yang lebih dahulu berdiri. Namun usia bukanlah ukuran utama. Yang utama ialah arah perjuangannya dan kesungguhan orang-orang yang menghidupkannya. 

Menjadi mata rantai berarti bersedia menyambung cita-cita yang telah lama diperjuangkan oleh berbagai pergerakan. Buat sampai ke sana, organisasi ini mesti dibangun di atas kesinambungan gagasan, tradisi, dan sistem.

GMH membutuhkan fondasi yang kokoh. Struktur organisasi harus dibangun secara efektif. Tata kelola harus terus diperbaiki. Sistem kaderisasi harus semakin mantap dan terukur. Dari titik itu GMH akan keluar sebagai energi baru yang diperhitungkan di tengah arus pergerakan mahasiswa Indonesia.

Namun kita juga mesti memahami bahwa sistem tidak akan pernah berjalan sendiri. Organisasi dibangun bukan pertama-tama oleh aturan, melainkan oleh kemurahan hati orang-orang yang menghidupkannya. Sistem yang baik hanya akan bekerja apabila dijalankan oleh orang-orang yang rela berkorban.

Di tengah derasnya perubahan zaman, mahasiswa membutuhkan ruang untuk bertumbuh. Ruang yang bukan hanya mengasah kemampuan akademik, tetapi juga membentuk integritas, kepemimpinan, dan keberanian memikul amanah.

Karena itu, inti kehadiran GMH sesungguhnya sederhana, yaitu membangun kader dan menjadi inkubator kepemimpinan baru bagi lahirnya pemimpin-pemimpin masa depan Indonesia.

Apa yang dikatakan sebagai bagian daripada mata rantai perjuangan Islam itu ialah GMH melalui aktivitas organisasi dan kaderisasi mesti melahirkan manusia-manusia yang insaf, berpikir canggih, berhati kuat, tapi tetap dihiasi oleh karakter yang terpuji. 

Ke depan para kader GMH mesti pula menyadari bahwa menjadi kader berarti bersedia memikul beban perjuangan. Dan kita katakan jalan ini tidak pernah mudah. GMH adalah entitas baru di dunia pergerakan mahasiswa. Perlu waktu buat penyempurnaan. PR para pengurus amat besar. Tanpa kesungguhan, kesabaran, dan kedalaman berpikir --pastilah organisasi ini hanya akan timbul dan tenggelam.

Begitulah dakwah dijalankan. Ia tumbuh di atas kesabaran, ketekunan, dan keyakinan bahwa setiap ikhtiar yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia. Apa yang ditanam hari ini mungkin belum dipanen esok. Namun sejarah selalu membuktikan bahwa peradaban besar dibangun oleh orang-orang yang rela bekerja untuk masa depan yang mungkin tidak sempat mereka saksikan.

Karena itu, setiap orang dalam radar perjuangan ini harus bahu-membahu dan bertungkus lumus membangun kapal pergerakan ini. GMH harus menjadi organisasi pergerakan mahasiswa Islam yang diperhitungkan di kancah nasional.

Mata Rantai Perjuangan Islam

0