GpMpBSG5TSO0TSG0TpOiTpG5Ti==
  • Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh

PP GMH Kritik Keras Budaya Kekerasan dalam Aksi Demonstrasi

Jakarta — Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (PP GMH) menyoroti keras kericuhan yang terjadi dalam aksi peringatan tragedi April Makassar Berdarah (Amarah) di depan Kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI), Makassar (24/4/2026). Aksi yang semula berlangsung kondusif itu berubah menjadi bentrokan antara massa mahasiswa dan sekelompok orang berjaket ojek online, hingga menyebabkan kerusakan fasilitas kampus dan lumpuhnya arus lalu lintas di Jalan Urip Sumohardjo.

Ketua Umum PP GMH, Rizki Ulfahadi, menyayangkan eskalasi kekerasan dalam aksi tersebut dan menegaskan bahwa demonstrasi seharusnya menjadi ruang penyampaian aspirasi yang bermartabat, bukan ajang bentrokan.

"Demo adalah hak konstitusional mahasiswa dan bagian penting dari demokrasi. Tapi ketika demo berujung kekerasan, merusak fasilitas, dan menimbulkan korban, maka substansi perjuangannya justru hilang,” tegas Rizki.

Kericuhan dilaporkan terjadi setelah sekelompok massa berjaket ojol datang ke lokasi aksi dan memicu ketegangan. Bentrokan tak terhindarkan, dengan aksi saling lempar batu hingga massa masuk ke dalam area kampus. Sejumlah fasilitas rusak, termasuk gerbang kampus yang roboh dan kendaraan mahasiswa yang dirusak. Aparat kepolisian kemudian turun tangan untuk meredam situasi dan mengamankan sejumlah benda berbahaya yang ditemukan di lokasi.

Rizki menilai, fenomena ini menunjukkan adanya krisis budaya demonstrasi di kalangan mahasiswa yang perlu segera dibenahi. Ia mengingatkan bahwa kekerasan tidak boleh dinormalisasi dalam setiap aksi.

"Kita tidak boleh membiasakan narasi bahwa demo pasti ricuh. Itu keliru dan berbahaya. Mahasiswa harus mampu membangun tradisi demonstrasi yang kuat secara gagasan, tetapi tetap tertib dan beradab,” ujarnya.

Lebih lanjut, PP GMH mendorong lahirnya paradigma baru dalam gerakan mahasiswa—yakni demonstrasi yang konstruktif, kreatif, dan tetap substantif dalam menyampaikan tuntutan kepada pihak yang dituju.

"Budaya kekerasan hanya akan merusak legitimasi gerakan mahasiswa. Kita butuh cara-cara baru yang lebih cerdas, kreatif, dan berdampak agar aspirasi benar-benar sampai dan menghasilkan perubahan,” pungkas Rizki.

PP GMH juga mengajak seluruh elemen mahasiswa, kampus, dan aparat keamanan untuk bersama-sama menjaga ruang demokrasi tetap sehat. Demonstrasi, menurut Rizki, akan tetap menjadi kekuatan perubahan selama dijalankan dengan tanggung jawab, kedewasaan, dan orientasi pada solusi, bukan konflik.

PP GMH Kritik Keras Budaya Kekerasan dalam Aksi Demonstrasi

0