GpMpBSG5TSO0TSG0TpOiTpG5Ti==
  • Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh

Rajut Persatuan Nasional di Momentum Bulan Syawal

Jakarta – (16/04/2026) Momentum bulan Syawal dinilai sebagai waktu yang tepat untuk memperkuat persatuan nasional setelah umat Islam menjalani ibadah Ramadhan. Nilai-nilai spiritual yang dibangun selama bulan suci diharapkan tidak berhenti sebagai ritual, tetapi berlanjut dalam kehidupan sosial yang harmonis. Syawal menjadi ruang untuk merekatkan kembali hubungan antarindividu dan kelompok.

Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (PP GMH), Rizki Ulfahadi, menyampaikan bahwa Syawal memiliki makna strategis dalam memperkuat kebersamaan bangsa. “Syawal adalah momentum untuk merajut kembali persatuan yang mungkin sempat renggang akibat perbedaan,” ujarnya.

Menurutnya, tradisi silaturahmi yang menjadi ciri khas bulan Syawal merupakan kekuatan sosial yang luar biasa. Melalui silaturahmi, masyarakat dapat membuka ruang dialog, saling memahami, dan memperbaiki hubungan yang sebelumnya kurang harmonis. “Silaturahmi bukan hanya tradisi, tetapi mekanisme sosial untuk menjaga persatuan,” tambahnya.

Ia menekankan bahwa bangsa Indonesia yang majemuk membutuhkan upaya berkelanjutan dalam merawat persatuan. Perbedaan suku, agama, dan budaya tidak boleh menjadi sumber perpecahan, melainkan kekayaan yang harus dikelola dengan bijak. “Persatuan bukan berarti menyeragamkan, tetapi merangkul perbedaan,” jelas Rizki.

Lebih lanjut, Rizki menilai bahwa nilai saling memaafkan yang berkembang di bulan Syawal harus dimaknai secara lebih luas. Tidak hanya dalam lingkup personal, tetapi juga dalam konteks sosial dan kebangsaan. “Memaafkan adalah langkah awal untuk membangun kembali kepercayaan,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam menjaga persatuan nasional. Menurutnya, pemuda harus menjadi pelopor dalam membangun ruang-ruang dialog yang sehat dan inklusif. “Generasi muda harus hadir sebagai jembatan, bukan sebagai pemicu konflik,” katanya.

Dalam konteks digital, Rizki mengingatkan bahwa ruang media sosial harus dimanfaatkan untuk memperkuat persatuan, bukan memperkeruh keadaan. Ia menilai bahwa narasi kebencian dan polarisasi harus dilawan dengan konten yang membangun. “Media sosial harus menjadi ruang persatuan, bukan perpecahan,” tegasnya.

Rizki juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga semangat kebersamaan yang telah dibangun selama Ramadhan. Ia menilai bahwa Syawal adalah fase lanjutan untuk mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. “Apa yang kita latih di Ramadhan harus kita jaga di bulan-bulan berikutnya,” ujarnya.

Menurutnya, persatuan nasional tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh masyarakat. Setiap individu memiliki peran dalam menjaga keharmonisan sosial. “Persatuan dimulai dari hal kecil, dari sikap kita sehari-hari,” tambahnya.

Di akhir pernyataannya, Rizki berharap momentum Syawal dapat menjadi titik awal penguatan kembali komitmen kebangsaan. “Mari kita jadikan Syawal sebagai momentum untuk merajut kembali persatuan nasional, demi Indonesia yang lebih harmonis dan kuat,” pungkasnya.

Rajut Persatuan Nasional di Momentum Bulan Syawal

0