Jakarta – Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (PP GMH), Rizki Ulfahadi, menegaskan bahwa bulan Ramadhan tidak hanya menjadi momentum peningkatan ibadah secara individual, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang kuat dalam mempererat persatuan umat.
Hal tersebut disampaikannya dalam refleksi Ramadhan yang menyoroti pentingnya nilai kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Menurut Rizki, Ramadhan menghadirkan pengalaman spiritual yang mampu menyatukan berbagai lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang.
“Puasa mengajarkan kita tentang kesamaan sebagai manusia. Rasa lapar dan dahaga itu dirasakan oleh semua orang, dan dari situlah tumbuh empati yang menjadi dasar persatuan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa suasana Ramadhan turut menciptakan ruang-ruang interaksi sosial yang lebih intens, seperti kegiatan buka puasa bersama dan shalat berjamaah.
Interaksi tersebut, kata dia, menjadi sarana efektif dalam mempererat hubungan sosial dan membangun ukhuwah di tengah masyarakat. “Ramadhan itu bukan hanya soal ibadah personal, tetapi juga momentum untuk memperkuat kebersamaan,” tambahnya.
Lebih lanjut, Rizki menekankan bahwa nilai penting lain yang diajarkan dalam Ramadhan adalah kemampuan mengendalikan diri, termasuk menahan emosi dan ego.
Menurutnya, konflik sosial kerap muncul akibat ketidakmampuan individu dalam mengelola ego. “Puasa melatih kita untuk menahan amarah dan memilih jalan damai. Dari situ, persatuan bisa tumbuh dengan lebih kuat,” jelasnya.
Dalam konteks sosial, ia juga menyoroti pentingnya praktik berbagi selama Ramadhan, seperti zakat dan sedekah, yang dinilai mampu mengurangi kesenjangan dan memperkuat solidaritas.
“Ketika kita berbagi, kita sedang membangun jembatan persaudaraan. Tidak ada lagi sekat, yang ada hanya kepedulian,” ungkap Rizki.
Rizki menambahkan bahwa Ramadhan juga menjadi momen refleksi kolektif bagi umat untuk memperbaiki hubungan yang sempat renggang. Ia mendorong agar nilai saling memaafkan yang hidup di bulan suci ini terus dijaga.
“Ramadhan mengajarkan kita untuk membuka hati, memaafkan, dan memperbaiki hubungan. Ini sangat penting dalam menjaga persatuan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa ketakwaan yang menjadi tujuan utama Ramadhan harus tercermin dalam kehidupan sosial yang harmonis.
“Orang yang bertakwa tidak hanya baik secara pribadi, tetapi juga menjaga hubungan dengan sesama. Persatuan adalah buah nyata dari ketakwaan itu sendiri,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Rizki berharap nilai-nilai yang ditanamkan selama Ramadhan tidak berhenti setelah bulan suci berakhir, melainkan terus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
“Ramadhan harus melahirkan perubahan, bukan hanya secara spiritual, tetapi juga sosial. Buah Ramadhan adalah persatuan, dan itu harus kita jaga bersama,” tutupnya.
